Langsung ke konten utama

Sejarah Suku Mandailing

Suku Dunia ~ Mandailing adalah salah satu sub kelompok dari suku bangsa Batak yang daerah asalnya termasuk dalam Provinsi Sumatera Utara. Orang Mandailing punya daerah asal yang lebih khusus, yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan. Kabupaten Tapanuli Selatan terbagi atas 20 kecamatan, yaitu kecamatan Barumun, Barumun Tengah, Batangangkola, Batangnatal, Batangtoru, Dolok, Kotanopan, Muarasipongi, Natal Padangbolak, Padang Sidempuan Barat, Padan Sidempuan Selatan, Padang Sidempuan Timur, Padang Sidempuan Utara, Panyabungan, Sampatdolokhole, Siabu, Sipirok, Sosa, Sosopan.

Lingkungan Hidup Suku Mandailing

Wilayah dan topografinya terdiri dari dataran tinggi dan dataran rendah, dan bagian sebelah barat berbatasan dengan Lautan Hindia. Di lautan itu termasuk beberapa pulau yang menjadi bagian wilayah Kabupaten ini. Daratannya ditandai cuatan sejumlah gunung, mengalir banyak sungai dan ada pula sejumlah danau. Alamnya juga mengandung macam-macam barang tambang. Hutan masih cukup luas, terdiri dari hutan produksi, hutan lindung dan hutan cagar alam.

Di tengah alam yang demikian, sebagian besar warganya hidup dengan mata pencaharian pertanian, sawah dan ladang. Mereka juga bertanam jagung, kacang hijau, kacang tanah, kacang kedelai, sayur-mayur, dan buah-buahan. Sektor perkebunan menghasilkan karet, kopi, coklat, kelapa, kelapa sawit, nilam, jambu mete, dan lain-lain.

Penduduk Suku Mandailing

Jumlah orang Mandailing tidak dapat diketahui secara pasti. Sensus penduduk tahun 1990 mencatat jumlah penduduk Kabupaten Tapanuli Selatan sebesar 954.332. Dalam jumlah tersebut di perkirakan, orang Mandailing merupakan yang terbesar, karena dalam wilayah ini tentu terdapat pula kelompok-kelompok dengan latar belakang etnik atau budaya lain.

Sejak dari zaman Belanda, orang Mandailing sudah mulai banyak yang pergi merantau, lebih banyak dari sub kelompok Batak yang berasal dari bagian utara. Faktor penunjang merantau ini adalah karena mereka sudah lebih awal mendapat kesempatan memperoleh pendidikan formal. faktor lain yang mendorong adalah faktor budaya, mereka melihat tanah yang diperoleh dirantau merupakan perluasan dari tanah yang ada di kampung halaman.

Pola Perkampungan Suku Mandailing

Mereka yang berdiam di pegunungan di sela-sela pegunungan Bukit Barisan di sebut Mandailing Julu, sedangkan yang berdiam di dataran rendah disebut Mandailing Godang. Yang bermukim di kampung-kampung atau dea (huta) umumnya mendiami rumah-rumah (bagas) tradisional. Rumah adat disebut  bagas godang. Sebagai kediaman kepala kampung, sebuah desa biasanya mempunyai balai desa dan sopo godang, tempat melaksanakan pertemuan atau musyawarah.

Dahulu, wilayah kampung (huta) tidak terlalu luas, sehingga kini sebuah desa merupakan gabungan dari beberapa kampung. Oleh sebab itu sebuah desa memiliki beberapa rumah adat. Sebuah huta di masa lalu itu di huni oleh kelompok-kelompok kerabat yang terdiri dari kelompok yang mewakili unsur dalihan na tolu.

Kehidupan Suku Mandailing

Kelahiran anak merupakan satu peristiwa penting. Menurut adat, orang yang pertama menjenguknya adalah mora atau pihak ibunya, kemudian baru disusul pihak kelompok anak boru, yakni kelompok "penerima wanita". Pihak mora tadi biasanya membawa makanan khas, berupa nasi bungkus dengan tiga butir telur dengan sedikit garam.

Selanjutnya, rentang kehidupan anak ini masih saja diliputi aturan adat dan kebiasaan lainnya. Ketika sang bayi sudah mulai kuat ia dibawah ke rumah mora untuk menerima "kaing penggendong" (parompa sadun) dengan tata cara tertentu pula. Pada waktunya, seorang anak di haruskan mempelajari aksara Batak, dan setelah masuk Islam belajar bahasa Arab di surau.

Daur hidup lainnya yang penting ialah perkawinan. Mereka berpegang pada adat eksogami marga dalam hal pemilihan jodoh. Pasangan yang ideal bagi seorang adalah anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya (tulang). Anak perempuan itu disebut boru tulang, sedangkan laki-laki itu disebut oleh anak perempuan dengan istilah anak namboru. itulah sebabnya sejak kecil seorang anak laki-laki sudah dibudayakan untuk menghormati tulangnya itu.

Baca Juga :
Upacara perkawinan mempunyai kaitan penting dengan unsur-unsur dari dalihan na tolu tadi. Unsur-unsur itu adalah kelompok kerabat sendiri (kahanggi), kelompok kerabat pemberi wanita (mora) dan kelompok kerabat penerima wanita (anak boru). Berbagai tata cara dilaksanakan dalam upacara perkawinan ini dengan berbagai hak dan kewajiban dari kelompok-kelompok kerabat tadi.

Orang Mandailing pernah mengenal suatu adat sehubungan dengan kematian. Apabila yang meninggal itu berusia lanjut dan yang dihormati masyarakat, upacara biasanya dilaksanakan secara lengkap (pasidung ari). Upacara ini biasanya menelan biaya yang besar. Biasa itu biasanya ditanggung oleh keluarga, kahanggi, dan anak boru.

Agama dan Kepercayaan Suku Mandailing

Orang Mandailing umumnya beragama Islam. Ajaran agama Islam ini konon masuknya melalui Minangkabau (Sumatera Barat). Orang Mandailing adalah pemeluk agama Islam yang taat, sehingga unsur-unsur kepercayaan leluhur (permalin) menjadi tergeser atau hampir tidak ada lagi.

Sumber : Ensiklopedi Suku Bangsa Di Indonesia oleh M. Junus Melalatoa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Suku Lio

Suku Dunia ~ Lio adalah suku bangsa yang merupakan salah satu kelompok penduduk asal pulau Flores di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ada pendapat bahwa orang Lio merupakan kelompok tertua di pulau Flores itu. Wilayah pemukiman orang Lio ini sekarang menjadi wilayah beberapa kecamatan, yaitu kecamatan Ndona, Kecamatan Detusoko, Kecamatan Wolowaru, dan Kecamatan Mourole, yang merupakan bagian dari Kabupaten Ende. Ini berarti wilayah kediaman orang Lio ini mencakup sebagian besar wilayah Kabupaten Ende, sedangkan selebihnya tiga kecamatannya lainnya, yaitu Kecamatan Nangapanda, Ende, dan Kopeta Ende merupakan wilayah asal suku bangsa Ende. Orang Lio juga ada yang bermukim dalam Kecamatan Paga, yang merupakan bagian dari Kabupaten Sikka. Orang Lio memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa Lio yang digunakan oleh anggota masyarakat di Kecamatan atau komunitas-komunitas tersebut di atas tadi. Di pulau Flores ini, orang Lio bertetangga dengan beberapa suku bangsa asal lainnya, misalnya orang ...

Sejarah Suku Luwu

Suku Dunia ~ Orang Luwu merupakan penduduk asal yang berdiam dalam wilayah Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Timur dan Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Daerah kediaman orang Luwu ini biasa disebut 'Tana Luwu' yang berada di daerah pantai, dan orangnya sendiri dinamakan 'To Luwu', dimana 'to' berarti 'orang', dan 'Luwu' berasal dari kata 'loo' atau 'lau' yang berarti 'laut'. Orang Luwu merupakan sebagian dari suku bangsa Bugis. Namun, Luwu konon menjadi asal negeri-negeri dan kerajaan-kerajaan orang Bugis. Luwu, juga Bone dan Gowa merupakan kerajaan tertua di Sulawesi Selatan, yang dianggap sebagai peletak dasar adat-istiadat orang Bugis dan Makassar. Kerajaan Luwu berdiri sebelum abad ke-8 yang didirikan oleh Batara Guru yang dianggap keturunan Dewa. Kini bekas istana raja Datu Luwu dijadikan museum yang dinamakan museum Batara Guru. Kini Daerah Luwu ini menjadi telah menjadi 3 buah Kabupaten yang dinamakan K...

Sejarah Suku Laut

Suku Dunia ~ Orang Laut terdiri atas kelompok-kelompok sosial yang berdiam di berbagai kawasan perairan Indonesia, seperti di perairan sekitar pulau Sumatera bagian timur, Kalimantan, Sulawesi, Flores, bahkan ada yang mengembara sampai ke perairan Malaysia dan Filipina. Orang Laut biasa juga dinamakan Suku Laut. Pada berbagai kawasan perairan tersebut subkelompok orang Laut disebut orang Bajau atau Bajo, orang Muara, dan orang Ameng Sewang. Dilihat dari latar belakang asal-usul mereka, para ahli mengkategorikan orang Laut sebagai sisa turunan nenek moyang bangsa Indonesia yang datang bermigrasi dari daratan Benua Asia sekitar tahun 2500-1500 SM. Mereka tergolong sebagai Melayu (Malayan Mongoloid). Pada masa itu mereka merupakan pendukung kebudayaan batu baru (neolithicum). Bahasa yang mereka gunakan merupakan suatu dialek bahasa Melayu. Contoh kata dialek orang Laut (Bajau) di Jambi adalah mando (mandi), nosi (nasi), koyu (kayu), dan lain-lain. Jumlah keseluruhan orang Laut tidak dapa...