Langsung ke konten utama

Sejarah Suku Sintang

Suku Dunia ~ Sintang adalah salah satu sub kelompok orang Melayu yang termasuk penduduk asal di Provinsi Kalimantan Barat. Mereka terutama mendiami wilayah Kabupaten Sintang. Kabupaten ini letaknya lebih ke arah pedalaman, dengan ibukotanya juga bernama Sintang. Nama "Sintang" ini berasal dari senatang, berasal dari kosa kata bahasa Dayak setempat, artinya tempat yang diapit oleh dua buah sungai. Disana terdapat aliran sungai yang "tentang-menentang".


Kabupaten Sintang berbatasan dengan negara Malaysia Timur (Serawak) di bagian utara, Kabupaten Kapuas Hulu dan Provinsi Kalimantan Timur di sebelah timur. Daerah Provinsi Kalimantan Tengah dibagian Selatan, dan disebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Ketapang.

Sebagian besar wilayah Kabupaten ini merupakan dataran tinggi dengan puncak tertingginya gunung Batu Raya (2.278 meter) dan masih ada gunung-gunung lain yang lebih rendah. Dataran rendah terdapat di wilayah bagian selatan dan barat. Daerah ini juga dilalui sungai Kapuas dan kota Sintang terletak dialiran sungai Kapuas dan kota Sintang terletak di aliran sungai ini. Sungai Kapuas adalah sungai besar yang sejak lama sudah ramai dilalui lalu lintas air.

Daerah yang luasnya 32.279 kilometer persegi itu terbagi menjadi 18 kecamatan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah kecamatan Sintang, Tempunak, Sipauk, Ketungau Hilir, Ketungau Tengah, Ketungau Hulu, Dedali, Kayan Hilir, Kayan Hulu, Belimbing, Nangapinoh, Ela Hilir, Menukung, Serawai, Ambalau, Sayan, Tanahpinoh, dan Sokan.

Di daerah Sintang ini pernah berdiri sebuah Kerajaan bernama Kerajaan Sintang. Yang menjadi raja kerajaan ini ada kaitannya dengan nama Aji Melayu yang konon berasal dari semenanjung melayu. Aji Melayu kawin dengan seorang wanita turunan dayak. Beberapa generasi kemudian lahirlah seorang bernama Pangeran Tunggal yang kemudian menjadi raja ke 18 dan pada masa inilah Islam berkembang. Sultan berikutnya diberi nama dengan nama-nama Islam, seperti Sultan Aman Mohamad Jamaludin. Raja yang ke-22 Ade Mohamad Nuh tercatat pemerintahannya tahun 1783-1823, pada masa itu kekuasaan Belanda memasuki kerajaan Sintang ini.

Orang Sintang umumnya berdiam di daerah aliran sungai besar seperti sungai Kapuas tadi. Dalam kabupaten ini mereka hidup berdampingan dengan berbagai sub kelompok orang Dayak, yang memang tersebar semua kecamatan yang ada. Dari seluruh kecamatan tadi tercatat tidak kurang dari 76 sub kelompok orang Dayak.
Masyarakat daerah ini, termasuk orang Melayu Sintang, menyandarkan hidupnya dari sektor pertanian, kehutanan, dan menangkap ikan. Padi ditanam di sawah dan sebagian lainnya di ladang. Tanaman lain di daerah ini adalah ubi kayu, jagung, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai, sayur mayur dan buah-buahan. Tanaman perkebunan rakyat adalah karet, kelapa, cengkeh, kopi, coklat, pinang. Sarana perhubungan sungai adalah yang utama dalam mengangkut hasil bumi dan kebutuhan lain.

Dalam hal kekerabatan, orang Melayu Sintang menarik garis keturunan menurut prinsip bilateral. Artinya, mereka menarik garis keturunan kepada pihak laki-laki dan pihak perempuan. Adat menetap sesudah nikah adalah adat matrilokal, dan masa terakhir cenderung neolokal. Mereka umumnya memeluk agama Islam sesuai dengan perkembangan agama Islam seperti disinggung di atas.

Sumber : Ensiklopedi Suku Bangsa Di Indonesia oleh M. Junus Melalatoa
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Suku Lio

Suku Dunia ~ Lio adalah suku bangsa yang merupakan salah satu kelompok penduduk asal pulau Flores di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ada pendapat bahwa orang Lio merupakan kelompok tertua di pulau Flores itu. Wilayah pemukiman orang Lio ini sekarang menjadi wilayah beberapa kecamatan, yaitu kecamatan Ndona, Kecamatan Detusoko, Kecamatan Wolowaru, dan Kecamatan Mourole, yang merupakan bagian dari Kabupaten Ende. Ini berarti wilayah kediaman orang Lio ini mencakup sebagian besar wilayah Kabupaten Ende, sedangkan selebihnya tiga kecamatannya lainnya, yaitu Kecamatan Nangapanda, Ende, dan Kopeta Ende merupakan wilayah asal suku bangsa Ende. Orang Lio juga ada yang bermukim dalam Kecamatan Paga, yang merupakan bagian dari Kabupaten Sikka. Orang Lio memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa Lio yang digunakan oleh anggota masyarakat di Kecamatan atau komunitas-komunitas tersebut di atas tadi. Di pulau Flores ini, orang Lio bertetangga dengan beberapa suku bangsa asal lainnya, misalnya orang ...

Sejarah Suku Lintang

Suku Dunia ~ Lintang adalah satu kelompok sosial yang berdiam di sekitar Sungai Lintang, yaitu Sungai Lintang Kiri dan Sungai Lintang Kanan, di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Nama daerah Lintang diberikan karena Sungai Lintang terletak melintang di alur Sungai Musi. Penduduk setempat menyebut diri mereka jemo Lintang, yang artinya "orang Lintang". Menurut cerita rakyat, nenek moyang orang Lintang yang pertama kali membangun dusun di daerah tersebut berasa dari luar dan masuk ke daerah tersebut melalui Sungai Musi. Daerah kediaman mereka disebut wilayah Lintang Empat Lawang, yang meliputi empat kecamatan, yaitu Kecamatan Ulu Musi dengan ibu kotanya Padang Tepong, Kecamatan Pendopo dengan ibu kotanya Pendopo, Kecamatan Muara Inang dengan ibu kotanya Muara Pinang, dan Kecamatan Tebing Tinggi dengan ibu kotanya Tebing Tinggi. Nama Lintang Empat Lawang muncul dengan adanya keyakinan masyarakat bahwa mereka diturunkan oleh nenek moyang yang berasal dari empat lawangan (pahlawa...

Sejarah Suku Lahat

Suku Dunia ~ Lahat adalah suku bangsa yang menetap terutama di Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan. Orang Lahat menyebut diri mereka jeme Lahat. Di kalangan masyarakat Lahat sendiri sebenarnya masih dikenal lagi pembagian kelompok masyarakatnya. Kelompok-kelompok masyarakat yang masih tergolong ke dalam kelompok Lahat tersebut adalah orang Lematang, Kikim, Pasemah, dan Lintang, sehingga dulu mereka sering juga disebut kelompok Lekipali. Bahasa Lahat termasuk rumpun bahasa Melayu dengan dialek sendiri. Di antara kelompok-kelompok khusus yang disebut Lekipali tersebut juga berkembang dialek-dialek tersendiri yang berbeda satu sama lain. Dari perbedaan dialek tersebut mereka saling mengetahui asal lawan bicaranya. Di Kabupaten Lahat, orang Lahat tersebar di beberapa kecamatan, dan disini mereka hidup berbaur dengan suku bangsa pendatang lainnya. Hal ini dimungkinkan, antara lain, karena kota kabupatennya, yaitu Kota Lahat, merupakan daerah lintas antarprovinsi di Sumatera Selatan....