Langsung ke konten utama

Mengenal Suku Bentong di Sulawesi Selatan

Suku Dunia ~ Orang Bentong dikenal juga dengan nama To Bentong. Orang Bentong adalah satu kelompok sosial yang mendiami daerah Bulo-Bulo, bagian dari wilayah Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan. Baca juga : Sejarah Suku Bentong

Daerah ini merupakan daerah berbukit-bukit dengan ketinggian sekitar 400-500 meter di atas permukaan laut, yang ditandai hutan semak, tanah ladang, serta sawah yang tidak begitu luas. Di tahun 1975, daerah ini belum ada sarana jalan, kecuali jalan setapak yang naik turun bukit untuk menghubungkan daerah ini dengan dunia luarnya.


Di tahun 1975, orang Bentong di Bulo-Bulo tercatat berjumlah 934 jiwa, yang tergabung ke dalam 123 KK. Mereka ini merupakan bagian kecil dari keseluruhan penduduk Kecamatan Tanete Riaja yang berjumlah sekitar 35.000 jiwa pada tahun 1990. Mereka berdiam di enam kampung, yakni kampung Kamboti, Tabalaka, Panggalungan, Rumbia, Ketopok, dan Taipabalarasa. Jarak antara satu kampung dan kampung lain dapat diukur dengan menghabiskan waktu 3-4 jam berjalan kaki.

Survey Departemen Sosial (1975), kebanyakan orang Bentong tidak mengetahui dengan pasti asal-usulnya. Namun, bahasa yang digunakan tampak mengandung campuran antara bahasa Bugis dan Bahasa Makassar. Baca juga : Sejarah Suku Makassar

Kelompok yang oleh Departemen Sosial dikategorikan "masyarakat terasing" ini hidup berpindah-pindah tempat, sesuai dengan mata pencaharian ladang berpindah yang mereka lakukan. Mereka bertanam padi, jagung, ubi jalar, ubi kayu, kacang ijo, dan sayur sayuran. Selain itu, mereka juga berburu dan menangkap ikan serta meramu. Hasil ramuan di hutan adalah damar, rotan, kayu cendana, kayu bakar, dan lain-lain. Peternakan belum diusahakan di daerah ini, meskipun lingkungan mereka sebetulnya cocok untuk usaha ini. Baca juga : Sejarah Suku Bugis

Mereka berdiam dalam rumah yang berdiri di atas tiang atau rumah panggung dengan ketinggian sekitar satu meter di atas tanah, dengan ukuran 4 x 3 meter. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, lantai dari kayu bulat atau bambu, dan atap dari daun nipah dianyam, tempat air dari kulit labu, periuk dari tanah, lesung dan alu untuk menumbuk padi, senduk nasi dari kayu, alat pengiris ubi, tombak penangkap ikan, tombak untuk berburu, bubu yang dianyam dari bahan bambu, dan lain-lain. Dalam berkesenian, mereka mengenal alat semacam kecapi yang terbuat dari kayu, dan seruling bambu.

Dalam perkawinan mereka mengamalkan adat endogami, artinya mencari pasangan di kalangan kelompok sendiri. Seorang perjaka yang ingin menikah dengan gadis luar kelompoknya diwajibkan menikahi gadis dari kelompoknya sendiri terlebih dahulu. Mas kawin diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan, bisa berupa ladang atau kain. Adat menetap sesudah nikahnya adalah utrolokal, artinya pasangan pengantin baru bisa menetap di lingkungan kerabat suami atau di lingkungan kerabat istri.

Kehidupan orang Bentong diwarnai oleh kepercayaan pemujaan terhadap roh nenek moyang dan benda-benda yang dikeramatkan. Mereka percaya bahwa pemujaan (arajang) akan mendatangkan keselamatan dan harus dilakukan untuk menghindari kutukan. Benda-benda arajang adalah keris, tombak, perisai, payung dan lain-lain, yang dikeluarkan pada saat tertentu. Benda yang dianggap sakti ini dikeluarkan untuk dipuja pada saat pelantikan pimpinan adat, perkawinan, bencana alam, dan peristiwa lain yang dianggap penting. Pemujaan lain dilakukan terhadap pantansa, yaitu rumah-rumahan kecil yang berwarna kuning sebagai lambang dewa. Berbagai upacara juga dilakukan pada saat penebaran bibit padi dan masa panen di ladang. Upacara itu  dipimpin oleh pinati atau dukun yang berperan sebagai perantara manusia dengan roh nenek moyang. Pada masa terakhir ini, mereka telah beragama Islam. Upacara perkawinan dan penguburan telah disesuaikan dengan hukum Islam. Walaupun demikian unsur kepercayaan asli tadi masih tampak bertahan juga.

Sumber : Ensiklopedi Suku Bangsa Di Indonesia oleh M. Junus Melalatoa
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Suku Lio

Suku Dunia ~ Lio adalah suku bangsa yang merupakan salah satu kelompok penduduk asal pulau Flores di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ada pendapat bahwa orang Lio merupakan kelompok tertua di pulau Flores itu. Wilayah pemukiman orang Lio ini sekarang menjadi wilayah beberapa kecamatan, yaitu kecamatan Ndona, Kecamatan Detusoko, Kecamatan Wolowaru, dan Kecamatan Mourole, yang merupakan bagian dari Kabupaten Ende. Ini berarti wilayah kediaman orang Lio ini mencakup sebagian besar wilayah Kabupaten Ende, sedangkan selebihnya tiga kecamatannya lainnya, yaitu Kecamatan Nangapanda, Ende, dan Kopeta Ende merupakan wilayah asal suku bangsa Ende. Orang Lio juga ada yang bermukim dalam Kecamatan Paga, yang merupakan bagian dari Kabupaten Sikka. Orang Lio memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa Lio yang digunakan oleh anggota masyarakat di Kecamatan atau komunitas-komunitas tersebut di atas tadi. Di pulau Flores ini, orang Lio bertetangga dengan beberapa suku bangsa asal lainnya, misalnya orang ...

Sejarah Suku Luwu

Suku Dunia ~ Orang Luwu merupakan penduduk asal yang berdiam dalam wilayah Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Timur dan Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Daerah kediaman orang Luwu ini biasa disebut 'Tana Luwu' yang berada di daerah pantai, dan orangnya sendiri dinamakan 'To Luwu', dimana 'to' berarti 'orang', dan 'Luwu' berasal dari kata 'loo' atau 'lau' yang berarti 'laut'. Orang Luwu merupakan sebagian dari suku bangsa Bugis. Namun, Luwu konon menjadi asal negeri-negeri dan kerajaan-kerajaan orang Bugis. Luwu, juga Bone dan Gowa merupakan kerajaan tertua di Sulawesi Selatan, yang dianggap sebagai peletak dasar adat-istiadat orang Bugis dan Makassar. Kerajaan Luwu berdiri sebelum abad ke-8 yang didirikan oleh Batara Guru yang dianggap keturunan Dewa. Kini bekas istana raja Datu Luwu dijadikan museum yang dinamakan museum Batara Guru. Kini Daerah Luwu ini menjadi telah menjadi 3 buah Kabupaten yang dinamakan K...

Sejarah Suku Laut

Suku Dunia ~ Orang Laut terdiri atas kelompok-kelompok sosial yang berdiam di berbagai kawasan perairan Indonesia, seperti di perairan sekitar pulau Sumatera bagian timur, Kalimantan, Sulawesi, Flores, bahkan ada yang mengembara sampai ke perairan Malaysia dan Filipina. Orang Laut biasa juga dinamakan Suku Laut. Pada berbagai kawasan perairan tersebut subkelompok orang Laut disebut orang Bajau atau Bajo, orang Muara, dan orang Ameng Sewang. Dilihat dari latar belakang asal-usul mereka, para ahli mengkategorikan orang Laut sebagai sisa turunan nenek moyang bangsa Indonesia yang datang bermigrasi dari daratan Benua Asia sekitar tahun 2500-1500 SM. Mereka tergolong sebagai Melayu (Malayan Mongoloid). Pada masa itu mereka merupakan pendukung kebudayaan batu baru (neolithicum). Bahasa yang mereka gunakan merupakan suatu dialek bahasa Melayu. Contoh kata dialek orang Laut (Bajau) di Jambi adalah mando (mandi), nosi (nasi), koyu (kayu), dan lain-lain. Jumlah keseluruhan orang Laut tidak dapa...